aku dalam masaku melantunkan syair merdu tentang hidup sempurna,
aku bukan pengemis santun dalam makna tabu memeluk ibadah agar orang patuh
aku tidak seperti penjilat moral berkedok agama sembunyi dibalik maksiat surga dunia
aku jujur walaupun terlihat risih dengan label haram dikepalaku
aku sejujur dosaku bukan pemakai pahala untuk menjual diriku
aku dihibur oleh mimpiku karna tak mampu mengejar bahagiaku
aku terbiasa dibodohi orang lain yang mengatasnamakan sejahtera seolah menyindir
aku bukan pembohong alim dengan topeng senyum santun setan
sejujur jujurnya aku adalah orang jujur manusiawi dengan kepala batu dari beton imitasi
aku dalam hidupku adalah diriku yang lain saat bahagiaku berpaling
aku menyanyi dalam gelapku mencari hati yang dulu merah berganti hitam
aku bukan penyair cinta hanya korban dilema anak manusia
aku mencari diriku mencapai bahagiaku dalam senyum,tangis,tawa,hina,luka bercampur dosa
aku pembual mesra bila bicara tentang cinta
aku pencinta tapi hanya diberi rasa iba dalam rasa terluka
aku bukan binatang malam hanya teman segelintir norma yang jalang
aku tak pernah munafiq bicara pahala cinta itu semudah mengetik
aku benci menunggu hanya terbuai wajah merayu dalam tawa kecil penghisap debu
aku merasa pagi dini hari belum saatnya untuk bersinar di siang hari
aku hanya bisu berteriak bukan berarti dungu apalagi tuna rungu
aku hanya tahu tuhan itu pemberi waktu untuk menunggu
jadi yakinlah bahagia ada saatnya begitupun derita dan kawan-kawan nya